Senin, 28 Maret 2011

DILEMA

Bagai berjalan didalam lumpur
Semakin aku berlari, semakin mengikat dan menyeret langkahku
Untuk berkubang didalamnya
Begitu juga dilema ini, mengajakku pergi ke ambang batas
Membuatku terperosok dalam bimbang dan pilihan

Sanggupkah tubuh ini melepaskan tetesan darah
Membiarkannya diluar vaskulerku dan meninggalkan goresan yang dalam
Lalu sampai kapankah luka itu akan mengering?
Mungkinkah?
Atau virus-virus nakal yang lebih dulu menghampirinya?
Perih dan membiru seluruh ragaku
Aku tak sanggup membayangkan semua itu

Benarkah ada gap diantara kita yang membuat kita tak bisa menyatu?
Layaknya air dan minyak yang tak pernah berkawan
Benarkah semuanya akan usai dan hanya menjadi sebuah cerita saja?
Seperti kisah Romeo dan Juliet yang tak pernah abadi

Seperti jantung yang tak pernah lelah memompa darah
Mendorongnya untuk mencapai tiap sisi tubuh
Menghantarkan oksigen untuk bertemu dengan jaringan
Tak perdulikan lagi bahwa miokardnya kan infark
Begitupun hatiku, takkan pernah lelah aku pertahankan rasa ini
Meski hati dan tubuhku kan melemah karenanya

Bukan aku bodoh ataupun naïf
Aku hanya ingin sepanjang hidupku menjadi bagian jiwamu
Mengajakmu melihat cakrawala dunia ini
Mengantarkanmu menggapai mimpi meraih bintang
Bersama sentuhan dari hatiku yang tulus dan abadi untukmu

Lalu…
Bagaimanakah akhir ceritaku?
Akankah kau patahkan hatiku yang rapuh ini?
Kau padamkan lentera kecil dihatiku?
Membiarkan cahaya masuk semaunya tanpa pupil bisa mengaturnya
Hanya karena debu yang kecil, membutakkan otakmu untuk menganalisa

Aku disini untuk bertahan
Hingga ragaku tak mampu lagi tuk berdiri dan terhempas karenanya